Monday, July 27, 2009

Bidadari....

"Kapan Kawin?"
II

Bidadari….
Luar biasa….

Bidadari laksana buah khuldi surgawi

Getarannya begitu hebat…

Gunung yang diam terpakupun terguncang
Perut bumipun bergejolak hendak meledak

Pancarannya yang elok begitu memikat

         Ya…
         Di ujung dunia berada pasti dicari
         Meski harus menyeberang samudera luas 
         Menghantam ombak badai menghempas menghadang

                Menerobos hutan belantara belukar merintang 
                Menapak sahara pasir terik menyengat kaki
                Mendaki gunung terjal tebing curam

Memang…
Bentuk dan warnanya begitu indah mempesona

Dan sungguh memang… 
Bukan hanya untuk dikagumi, juga dinikmati

Itulah amar Ilahi
Memanjat menggapai memetik buah khuldi
Harus tetap nurut tuntunan kanjeng Nabi


Tuesday, July 7, 2009

"Kapan Kawin?" (I)

"Kapan Kawin?"

I


Pertanyaan ini memang ungkapan yang paling "pas" untuk memulai pembicaraan dengan orang berusia matang.

Pertanyaan ini juga sangat cocok disampaikan oleh siapa saja tanpa pandang usia, baik orang dewasa maupun orang tua bahkan anak-anakpun juga pas banget.

Pertanyaan ini sangat sering disampaikan oleh kedua orang tua kepada anak lajangnya untuk segera melengkapi kebahagiaan hidupnya, dan keinginan keduanya agar dapat segera menimang cucu bunga hati buah cinta penerus etafet perjuangan selanjutnya.

Pertanyaan ini sindiran sangat halus disampaikan guru, ustadz maupun kyai kepada santrinya, untuk segera menata kemandirian hidupnya, merangkai keutuhan dari puing belah jiwanya, menyempurnakan keber-Islamannya yang masih separo.

Pertanyaan ini sangat mengasyikkan disampaikan oleh sahabat karib dan handai taulan, sebagai bahan tawa senda gurau, meng-gojlok, memotivasi untuk segera mengirimkan kartu undangan ikut serta mengamini untaian rangkaian doa.

Pertanyaan ini dengan sedikit malu-malu disampaikan murid untuk sekedar ikut merasakan bila hati sedang berbunga melihat gurunya beriring bergandeng dengan bidadarinya.

Pertanyaan ini dengan sangat manja diutarakan keponakan kecil untuk dapat ikut memeriahkan kebahagiaan pesta dan berharap kelak mendapat tambahan uang saku dari tantenya yang baru.

Pertanyaan ini adalah penyambung lidah bagi calon mertua yang penuh harap agar dua insan yang berbeda dapat berjodoh.

Dan sungguh memang

Pertanyaan ini dengan gemulai sedang menari-nari dalam relung hati dan jiwa batinku yang terdalam.

"Kapan Kawin?"